Miskin dan Sakit, Nenek di Cisoka ini Pun Tidur Beralasakan Tanah


Cisoka--Sarhani (75) hanya bisa pasrah dan berdoa untuk kelangsungan hidupnya dan kesembuhannya. Tubuhnya yang sudah renta sulit mulai sakit-sakitan, bahkan kakinya sulit digerakkan, namun meski sudah 20 tahun menderita sakit, ia mengaku belum pernah berobat ke dokter, karena merasa tidak mampu untuk membayar biaya berobat, untuk mengobati penyakitnya ia hanya mengandalkan obat-on ayam tradisional alakadarnya.


Sejak suaminya meninggal, Sarhani tinggal bersama dua orang putrinya dirumah yang terbuat dari bambu yang dibangun 40 tahun yang lalu. Kondisi bangunan rumah tersebut pun sudah sangat memprihatinkan, fisik bangunan yang terbuat dari bambu tersebut sudah rapuh dengan atap yang bocor, selain itu, dirumah tersebut tidak tersedia fasilitas MCK.

Nenek ini pun kerap mengeluh saat hujan, karena rumah yang berlantai tanah tersebut menjadi becek dan licin, sementara ia harus tidur beralas tikar dan kasur diatas tanah tersebut.

Penderitaan nenek ini pun tak berakhir disitu, anak pertamanya yang ia harapkan akan menjadi tulang punggung keluarga tak mampu banyak berbuat, bahkan setelah menikah dan dikarunia empat orang anak, putri pertamanya tersebut ditinggalkan oleh suaminya. 

Rumah itu kini dihuni oleh enam jiwa, setelah putri bungsunya pergi merantau menjadi TKI ke Arab Saudi, namun harapan keberangkatan putrinya mencari nafkah untuk keberlangsungan hidup keluarga tersebut pun hampir kandas, karena sejak lima tahun waktu berjalan, tak pernah ada kabar dari si bungsu.

Warga Kampung Talaga RT 01/04, Desa Karang Harja, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang tersebut pun hanya bisa berpasrah diri.

"Jangankan untuk berobat, bisa makan aja sudah syukur alhamdulilah," ujarnya, Selasa (23/5/2017).

Dengan mata berkaca-kaca ia bercerita, diwaktu muda ia dan suaminya adalah seorang petani. Hidup sebagai seorang petani kala itu sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, namun sejak suaminya meninggal ia seperti hidup sebatang kara, karena tak ada sanak saudara yang memperhatikannya.

"Kalau hujan, saya kebocoran, selain itu kedinginan, karena dinding rumah dari bilik, lantai juga becek. Sementara saya tidur dibawah," keluhnya.

Dalam kondisi demikian, rasa sakit disekujur tubuhnya terasa semakin menyiksa.

"Kaki saya sakit, tapi enggak pernah berobat ke dokter atau Puskesmas, karena enggak punya uang, cuma bisa pake obat tradisional saja," ujarnya lirih.

Ternyata meski sudah ada jaminan kesehatan dari Pemerintah melalui BPJS Kesehatan, sampai saat ini ia belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, disamping itu, ia juga tidak memiliki kartu identitas kependudukan (KTP).

Dalam kondisi penuh kesulitan, nampak semangat untuk kembali sehat dan bisa beraktivitas lagi terpancar dari wajahnya yang sudah keriput.

"Pengen bisa sehat lagi, bisa jalan seperti biasa, pengen punya alat bantu kursi roda dan tongkat, supaya jalannya tidak kepeleset," harapnya.

Nur, Ketua RT setempat menceritakan sejak suami Sarhani wafat, tidak ada yang bisa dijadikan tulang punggung keluarga tersebut, sementara keberadaan sanak saudaranya pun tak diketahui.

"Kondisi ekonominya sangat lemah, sementara belum ada pihak yang memberikan perhatian, termasuk dari Pemerintah," ujarnya.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url